CERPEN
Dari arah belakang “Ibu..ibu “ suara yang hampir tidak terdengar memanggil Mira.
SURGA YANG KEMBALI
Dua belas tahun
pernikahan Mira dan Andi hingga dikarunia dua orang putri dan dua orang putra. Andi sangat mencintai Mira begitu pun sebaliknya. Rumah tangganya sangat bahagia walau hidup dalam keserhanaan.
Namun, Mira masih memikirkan ayahnya. Sepeninggal ibu, duapuluh tahun yang lalu ayah tinggal sendiri di luar kota dalam rumah kontrakan. Karena usia hampir delapan puluh tahun ayah sering sakit.
Mira mendapat izin suami untuk mengajak
ayah tinggal di rumah. Namun selalu saja menolak. Tiba tiba, entah apa
penyebabnya.
“Mira, aku mau tinggal di rumahmu, tapi beri satu kamar, ya.”
“Mira, aku mau tinggal di rumahmu, tapi beri satu kamar, ya.”
Mira dan andi sangat
gembira karena bisa menolong ayah .
“Mamah.., kalau di rumah kita ada orang tua, insya Allah kita akan bahagiaan, karena orang tua akan membawa keberkahan
untuk anaknya” Begitu Andi menjelaskan, membuat Mira sangat gembira.
****
Lembayung hampir nampak. Truk
berhenti di depan rumah, membawa barang milik ayah. Karena di depan rumah jalan agak menurun, truk sulit tepat di depan pintu gerbang.
“Mudur..mundur”.. kernet
memberikan aba aba.
Tiba tiba “Druar..gubrag.” semua orang berterik “Stop..stop..stop”
Secepat kilat Mira berlari keluar. “Subhannallah..Allahu
Akbar” teriaknya
Pagar rumah hancur
tertabrak belakang truk. Mira dan suamiya saling berpandangan. wajah
pucat dan datar menandakan keduanya harus memutar otak.
Ayah Mira pun
kaget, ” Wah..gampanglah nanti dibetulkan saja!” Dengan nada
menyuruh.
Perasaan Mira dan
suaminya menjadi tidak karuan, karena
harus membetulkan pagar yang rusak.
“ Pah., apakah
tanda semua ini? “ Mira memelas pada suaminya setelah semua barang ayah diturunkan dari truk.
“Entahlah..... “ Suami Mira menjawab dengan datar dan mata yang lurus tertuju ke bongkahan tembok pagar yang hancur.
“Entahlah..... “ Suami Mira menjawab dengan datar dan mata yang lurus tertuju ke bongkahan tembok pagar yang hancur.
“ Kerusakan, menyambut kedatangan ayah, apa artinya ya, pa..? ”
“Apakah kehadiran ayah akan membahagiakan atau
membawa petaka?” Mira dan suaminya hanya
terdiam
*******
Hari pertama ayah di rumah membuat suami istri itu bahagia bercampur bingung. Karena harus membetulkan tembok pagar yang
roboh.
Dua
minggu Mira melayani ayah dengan memberi kue basah setiap pagi yang dibeli dari
warung.
Ayah sering berbicara
di telpon entah dengan siapa, hanya
suaranya saja yang terdengar sampai ke dapur.
“ Enak tinggal
disini, serba gratis, tidak bayar
kontrakan, air dan listrik”, Mira dan suaminya hanya
berpandangan dengan menyimpan beribu pertanyaan.
“Makan juga sudah
disiapkan, pokoknya enak deh”. Suami
istri itu hanya terdiam.
******
Sudah dua bulan
ayah tinggal di rumah. Mentari muncul di ufuk timur, udara bukit menusuk sampai ke tulang. Laki laki tua duduk santai di teras berteman
secangkir susu panas dan bolu kukus. Tiba
tiba “Mira..kenapa pot bunga di situ,
kok banyak yang tidak penting, jeruk,
kurma buat apa?
Mira kaget “ Itu semua tanaman suamiku, Jeruk
dan kurma ditanam dari biji sejak lima tahun yang lalu”. Mira menjelaskan.
“Ahh..buat apa kalu mau buahnya beli
aja di pasar.” Ayah membantah.
“Dug..dag” Jantung Mira berdetak cepat karena semua bunga dan pot adalah kesayangan
suaminya yang tidak bisa diganggu. Mira tahu kalau Andi hobi bertanam.
“ Pokoknya, nanti
ayah yang ngatur, biar rumah rapih”.
************
Matahari menyengat
sampai ke kulit, kucing berteduh di bawah daun rindang. Kaki
Mira melangkah pelan ke dalam rumah.
Suaminya belum nampak karena masih di pabrik mie instan tempat bekerja.
Dari arah belakang “Ibu..ibu “ suara yang hampir tidak terdengar memanggil Mira.
“Ada apa teh?”. Saya sudah memperingatkan ayahnya untuk tidak
membuang pot bunga dan buah buahan itu,
Tapi dia tetap membuangnya ke tong sampah”. Teh tuti tetangga sebelah rumah memberi kabar. keningnya mengerut, mata tidak berkedip tertuju pada Mira.
‘Apa teh, pot buah
dan bunga dbuang?”
Dada Mira naik turun,
jantungnya berdebar kencang.
” Oh..tidak..tanaman
itu sudah lama kami pelihara”.
Mira segera
menghampiri ayah.
“ Mengapa ayah membuang pot kesayangan suamiku?’.
“ Ahhh..buat apa tidak ada gunanya. “ Ayah menjawab dengan datar.
“ Mana pohon jeruk
sambal yang baru dibeli seminggu yang lalu dengan antri? ”
Tanya Mira dengan suara yang agak keras. “ Di tong sampah”.
Jawab ayah.
“Oh.no..no...pasti Andi marah, ayah?
Ayah pun agak
kaget dan terdiam.
Kejadian itu, membuat raut muka Mira mengerut, tidak ada senyum di wajahnya. Perasaannya tidak menentu menunggu detik detik kedatangan suaminya.
Dari balik dinding ruang tengah “Mengapa
pot bunga berkurang, mana pohon jeruk, mana
bunga itu'? Suara Andi memecahkan lamunan Mira.
Badan Mira membelok dengan cepat “ Dibuang ayah.”
“Seenaknya membuang
barang orang ! Andi membentak. Jantung Mira seakan mau copot.
Andi tidak berhenti mengomel. " prak..prak..prakk.." sendal Mira menuju kamar. " "Brag...brug.." pintu kamar tertutup, dindung rumah bergetar
***********
Kini hari Mira mencekam. Ayah yang keras
dan suka mengatur, suami pemarah dan sensitif. Keduanya menyatu dalam rumah.
Daun mangga masih
terlihat samar , pinggir dan ujung terlihat titik air menetes .
Rumput terlihat masih basah, hari itu Mira dan suaminya menggali tanah di sudut halaman rumah. Karena Mira dan suaminya tidak bekerja. Kedalaman
tanah sudah 50 centimeter dan lebar satu meter. Bergantian Mira dan Andi membuang
tanah ke luar pagar dekat taman.
Tidak
disangka ternyata ayah memperhatikan.
“ Untuk apa lubang itu?” Ayah bertanya dengan suara menghentakkan. “Kami
akan membuat kolam ikan ayah “. Mira menjawab.
“ Kolam.. tidak
ada gunanya, bikin becek aja, tidak perlu”
Ayah menyanggah dengan jari
ditunjukkan pada lubang kolam.
“Lho..kok.suamiku
hobi ikan, lagian bisa jadi hiburan buat anak anak”. Mira menyela
“Tidak perlu,
tutup saja.”. Bentak ayahnya. Mira kembali galau.
Kalau suaminya tahu, lubang harus ditutup,
pasti akan marah lagi.
“Please ayah ,
kami tidak akan menutupnya, kami akan
membuat kolam”. Ayahnya tak menjawab.
**************
Seperti hari hari
biasa, Mira pulang di saat matahari di atas ubun ubun. Kaki yang lesu menyusuri
dapur dengan langkah yang hampir tidak terdengar, keningnya basah kena terik
matahari, perutnya bunyi karena makanan baru masuk sebelum berangkat.
‘Plak..plak..” Serasa
muka Mira ada yang menampar.
“Dug.. dug...dug.”
Jantung Mira berdetak sangat cepat, mukanya memerah, keningnya berkerut.
”Seiiir.” Serasa
ubun ubunnya mendidih.
Matanya tertuju ke
sudut taman, lubang untuk kolam itu.
“ Bi..siapa yang
menutup lubang ini?” Mira memanggil pembantu.
“ Ayah”. Jawab bibi datar
“ Tadi kakek menutup dengan rumput dan
tanah” Si bunggu menambahkan.
Kaki Mira yang
lesu mendadak bisa berlari dengan suara menggetarkan lantai , seperti kilat
menuju kamar. Suara tangisan Mira hanya
terdengar dalam ruangan kamar karena tertutup bantal
” Cape.cape..” Teriak
Mira. Suaranya lirih tidak berdaya.
“ Aku tidak kuasa
dengan hidup ini, “Mengapa semua harus terjadi, aku tak berdaya Tuhan”. Itulah
rintihan Mira yang sering hadir dalam
setiap tangisannya.
“Kenapa ayah
selalu mengatur kehidupan kami?”. Apalagi nanti suamiku tahu, pasti aku yang
mendapat kemarahan, bukannya ayah .”
Kembali Mira menangis sejadi jadinya
“Draaggg....brag...” Pintu kamar terbuka cepat.
“Siapa lagi yang menganggu rumahku. Siapa lagi
yang menghalangi hobiku” Suara Andi menggetarkan seisi rumah.
Mira terpaku menyender ke dinding. Matanya yang bengkak, hidungnya merah, hanya terdiam dengan bantal dalam pelukkannya.
“Siapa yang
menutup lubang kolam, pasti ayah”. Bentakkan Andi kembali membuat Mira
menguraikan air mata.
“Mengapa ayahmu selalu menggagu rumahku,
mengapa mengatur hidupku, memang dia yang menjadi kepala rumah tangga di rumah
ini?”
Akhirnya Mira dan
suaminya hampir setiap hari beradu mulut, bersitegang dan cekcok.
Kadang Mira
berusaha menegur ayah untuk tidak mengganggu dan
mengatur rumah tangganya. Kadang,
menasehati Andi untuk bersabar menghadapi ayah
yang tidak muda lagi.
Jiwa Mira
terombang ambing antara orang tua dan suami. Kemana harus memihak, Karena keduanya sama berarti
untuk hidupnya.
***************
Satu tahun, dua
tahun hubungan Mira dan suaminya selalu diwarnai pertengkaran. Andi tidak semangat bekerja. Harinya dipenuhi kebencian, ketakuatn dan kemarahan. Dalam
satu minggu, dua atau tiga hari tidak
bekerja. Jika ditanya Andi menjawab “Pusing,
aku bukan kepala rumah tangga lagi di rumahku sendiri.”
Semangat bekerja
terus menurun. Mira semakin tertekan
karena harus menanggung malu dengan perusahaan suaminya. Sampai akhirnya Andi memutuskan
untuk berhenti bekerja.
Mira semakin
tertekan, harus menangung biaya resiko sehari hari . Setiap membicarakan kekurangannya
biaya, malah hanya mendapat bentakan dan berakhir dengan
pertengkaran. Akhirnya , berpikir
sendiri dan tak jarang dia lari ke tetangga atau saudara
untuk mengadu dan menangis, mencari jalan keluar.
Tidak jarang Mira
membawa tangisan ke Bank Negeri tempat
dia bekerja. Pertengkaran dengan suami terus betambah dan semakin
sering. Bahkan sering meminta bercerai tapi Andi tidak pernah menanggapin karena
bukan Mira penyebabnya.
Hari Mira semakin
tak menentu. Jika tidak mengingat anak, Mira ingin menjauh menghidari perang Irak Iran
di rumahnya. Senjatanya hanya tangisan
di saat gelap gulita berteman Tuhannya. Rintihan
menjadi sahabatnya untuk menguatkan hati menjadi wasit perang dingin antara ayah
dan Andi. Rumah neraka menjadi kebiasaan yang harus dinikmati setiap hari.
****
Matahari sudah
bersembunyi, seisi rumah tanpa suara
diatas peraduannya, namun Mira bolak balik kamar mandi sendirian. Perutnya terasa
sakit melilit, lebih dari dua puluh kali harus menguras perutnya. Suara Adzan
subuh membangunkan putri sulungnya. Dia membantu Mira mengambilkan air hangat
dan obat sakit perut.
“Buaarrrr.....”.
air dan makanan keluar cepat dari mulut Mira.
“ Kenapa mata
mamah, masuk ke dalam dan sangat pucat?”. Nisa berurai air mata sambil panik.
Benar, tulang jari
dan kaki sangat jelas terlihat, badannya sulit berdiri, suaranya tidak
terdengar. Mira dehidrasi. Untung cepat di bawa ke rumah sakit, cairan tubuh
Mira sudah terkuras. Satu minggu harus mendapat perawatan. Sebenarnya Andi tahu
kalau Mira sudah sangat lelah dengan kehidupan dalam rumahnya.
Namun, sakit Mira tidak merubah keadaan. hidup dalam dua sisi
yang sangat sulit. Dia hanya memohon, mendapat keajaiban untuk kedua orang yang dicintainya bisa
berdamai. Memohon, Rumahnya kembali menjadi surga miliknya.
*****
Tidak biasanya,
Mira pulang ke rumah saat matahari sudah diufuk barat. Rapat Dinas akhir tahun harus menguras tenaga
dan pikirannya.
Langkahnya pelan
tak terdengar suara sepatu.
“Dug..dug..dug.” Seperti biasa jika masuk rumah, jantungnya akan lebih cepat.
Neraka akan segera dia hadapi.
“Krek..krek”. Pintu
dibuka. “Kok sepi..” Guman Mira dalam hati.
Biasanya ayah ada di tengah rumah. Duduk baca
koran atau berkomentar segala apa yang tidak setuju.
‘Bi.ayah mana?”. Ada
bu, di kamarnya. “Tadi cukup lama
berbicara di telp.”
Pembantu itu menjawab sambil menyetrika
tumpukan baju.
Mira segera
membuka pintu kamar. “Kok tidak ada bi, kemana
ayah?”
Secepat kilat Mira
membuka pintu kamar mandi. “
Astagfirullah..ayaaahh...kenapa?”
Tubuh kurus, terlihat jelas tonjolan tulang terkujur di lantai kamar mandi, baju basah, kaki
dan tangan kaku. Mata yang sayu hanya mampu mendelik dan berkedip perlahan.
Suara ayah tidak
jelas apa yang dibicarakan.
“ To..tolong, diingiiin.” Pelan sekali hampir tak terdengar.
Mira berteriak minta tolong.
Pembantu dan suaminya segera menghampiri. “ Mengapa ayah?”
“Pasti darah
tinggi ayah kambuh , pasti tensinya naik lagi”. Mira dengan cepat memeriksa
tensi ayah yang sedang terbaring di tempat tidur.
Tensimeter menunjukkan 190 sistole dan diastole 100. “ Waduh, sangat tinngi”. Wajah Mira pucat dan tegang. Ayah
lemah dan tidak bisa berjalan. Bicaranya kaku dan tidak jelas. Tidak bisa
menjawab pertanyaan, matanya kosong. Mengunyah makanan pun tak bisa bahkan
mengingat waktupun agak sulit.
Mira dan suaminya
segera membawa ayah ke rumah sakit. Dari
Ct Scan dokter menyimpulkan kalau ayah mengalami stroke yang kedua .Kini pendarahan di otak besar bagian kanan bertambah menjadi
empat titik.
*******
Satu minggu ayah
terbaring di tempat tidur dengan jarum infus masih terpasang. Sudah terlihat wajahnya lebih segar, sudah
bisa makan namun daya ingat masih belum pulih. Sore itu Mira dan suaminya
kebagian jaga malam. Tiba tiba ayah berbicara hampir tak terdengar dan terbata
bata.
“ Mira.. Andi. Ma..ma,,af , ayah ya..” Mira secepatnya memagang tangan ayah. “Untuk
apa, tidak ada yang perlu dimaafkan, ayah.”
“ A.a.ayah sudah
merepotkan kalian berdua”. Andi pun
memeluk mertuanya sambil menangis dan
mencium tangannya. “ Aku juga minta ma’af ayah.”. suara Andi serak.
Mira mencium tangan ayah..” Aku malah yang
minta maaf, karena tidak bisa membahagiakan
ayah”. Ruangan kamar kelas tiga yang diisi oleh sepuluh pasien hening dan sepi,
hanya isak tangis yang menemani suara
jam dinding.
******
Sembilan hari dirawat, dokter membolehkan ayah pulang
dengan rawat jalan. Namun kondisinya
masih lemah dan bicaranya kurang jelas. Kadang membutuhkan waktu lama mengingat sesuatu yang akan dibicaraka. Kemarahan,
mengatur dan emosinya sudah tidak nampak
lagi. Hari harinya banyak diam, tidur atau membaca Al Qur`an.
Mira dan suaminya
semakin menyayangi dan lebih memahami
kondisi ayah. Pertengkaran Mira dan suaminya semakin hari berkurang, malah
mereka terlihat hidup rukun dan tentram. Andi sudah mulai bekerja di tempat lama. Mira mendapatkan kembali suami yang
mencintainya. Dia mendapat miliknya yang hilang.
Surganya kini telah kembali.
Rumah adalah surganya.
******
Padalarang 12 Juli 2016
(7 Syawal 1437H)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar