Senin, 11 Juli 2016

CERPEN


                                              SURGA YANG KEMBALI

Dua belas tahun pernikahan Mira dan Andi hingga dikarunia dua orang putri dan dua orang putra. Andi sangat mencintai Mira begitu pun sebaliknya. Rumah tangganya sangat bahagia walau hidup dalam keserhanaan. 

Namun,  Mira masih memikirkan ayahnya.  Sepeninggal ibu, duapuluh tahun yang lalu  ayah  tinggal sendiri di luar kota dalam rumah kontrakan. Karena usia hampir delapan puluh tahun   ayah sering sakit. 

 Mira mendapat izin suami untuk  mengajak ayah tinggal di rumah. Namun selalu saja menolak. Tiba tiba, entah apa penyebabnya.
“Mira, aku mau tinggal di rumahmu, tapi  beri satu kamar, ya.”
 Mira dan andi sangat gembira karena bisa menolong ayah . 

“Mamah.., kalau di rumah kita ada orang tua, insya Allah  kita akan  bahagiaan, karena orang tua akan membawa keberkahan untuk anaknya”  Begitu Andi menjelaskan, membuat   Mira sangat gembira.

       ****
Lembayung hampir nampak.  Truk berhenti di depan rumah,  membawa barang milik ayah. Karena di depan rumah jalan agak menurun, truk sulit  tepat di depan pintu gerbang.  

“Mudur..mundur”.. kernet memberikan aba aba.
Tiba tiba  “Druar..gubrag.”  semua orang berterik  “Stop..stop..stop”
 Secepat kilat Mira berlari keluar. “Subhannallah..Allahu Akbar” teriaknya
Pagar rumah   hancur tertabrak belakang truk. Mira dan suamiya saling berpandangan.  wajah pucat dan datar menandakan keduanya harus memutar otak.

Ayah Mira pun kaget, ” Wah..gampanglah nanti dibetulkan saja!” Dengan nada menyuruh.
Perasaan Mira dan suaminya menjadi tidak karuan,  karena harus membetulkan pagar yang rusak.

“ Pah., apakah tanda semua ini? “ Mira memelas pada suaminya setelah semua barang ayah diturunkan dari truk. 
 “Entahlah..... “ Suami Mira menjawab dengan datar dan mata yang lurus tertuju ke bongkahan tembok pagar yang hancur.
 “  Kerusakan,  menyambut kedatangan ayah, apa artinya ya, pa..? ”
“Apakah  kehadiran ayah akan membahagiakan atau membawa petaka?”  Mira dan suaminya hanya terdiam

*******
Hari pertama ayah di rumah membuat suami istri itu bahagia bercampur bingung.  Karena harus membetulkan tembok pagar yang roboh.
Dua minggu Mira melayani ayah dengan memberi kue basah setiap pagi yang dibeli dari warung. 

Ayah sering berbicara di telpon entah dengan siapa,  hanya suaranya saja yang terdengar sampai ke dapur.
“ Enak tinggal disini, serba gratis, tidak   bayar kontrakan,  air dan  listrik”, Mira dan suaminya hanya berpandangan dengan   menyimpan beribu pertanyaan.
“Makan juga sudah disiapkan, pokoknya enak deh”.  Suami istri itu hanya terdiam.

                                             ******
Sudah dua bulan ayah tinggal di rumah.  Mentari muncul di ufuk timur, udara bukit menusuk sampai ke tulang.  Laki laki tua duduk santai di teras berteman secangkir susu panas dan bolu kukus.  Tiba tiba  “Mira..kenapa pot bunga di situ, kok banyak yang tidak  penting, jeruk, kurma buat apa?

Mira kaget  “  Itu  semua tanaman  suamiku,  Jeruk  dan kurma ditanam dari  biji sejak lima tahun yang lalu”. Mira menjelaskan.
“Ahh..buat apa kalu mau buahnya  beli aja di pasar.” Ayah membantah.

“Dug..dag”  Jantung Mira  berdetak cepat  karena semua bunga dan pot adalah kesayangan suaminya yang  tidak  bisa diganggu. Mira tahu kalau    Andi hobi bertanam.
“ Pokoknya, nanti ayah yang ngatur,  biar rumah rapih”.

                                                 ************

Matahari menyengat sampai ke kulit, kucing berteduh di bawah daun rindang.   Kaki Mira melangkah pelan  ke dalam rumah. Suaminya belum nampak karena masih di pabrik mie instan tempat bekerja.

Dari arah belakang  “Ibu..ibu “  suara   yang hampir tidak terdengar memanggil Mira.
 “Ada apa teh?”.  Saya sudah memperingatkan ayahnya untuk tidak   membuang pot bunga dan buah buahan itu, Tapi dia tetap membuangnya ke tong sampah”.  Teh tuti tetangga sebelah rumah memberi kabar. keningnya  mengerut, mata tidak berkedip tertuju pada Mira. 

‘Apa teh, pot buah dan bunga dbuang?”
Dada Mira naik turun, jantungnya berdebar  kencang.
” Oh..tidak..tanaman itu sudah lama kami pelihara”.
Mira segera menghampiri ayah.

“ Mengapa ayah  membuang pot kesayangan suamiku?’.
“ Ahhh..buat apa tidak ada gunanya. “ Ayah  menjawab dengan datar.
“ Mana pohon jeruk sambal yang baru dibeli seminggu yang lalu dengan antri? ”
Tanya Mira dengan suara yang agak keras.  “ Di tong sampah”. Jawab ayah.

“Oh.no..no...pasti Andi marah, ayah?
Ayah  pun agak kaget dan terdiam.

 Kejadian itu, membuat  raut muka Mira mengerut, tidak ada senyum di wajahnya. Perasaannya tidak menentu menunggu  detik detik kedatangan suaminya.

Dari balik dinding ruang tengah  “Mengapa pot bunga berkurang, mana pohon jeruk, mana  bunga itu'? Suara Andi memecahkan lamunan Mira.
Badan Mira membelok dengan cepat “ Dibuang  ayah.”
“Seenaknya membuang barang orang !  Andi membentak.  Jantung Mira seakan mau copot.
Andi tidak berhenti   mengomel. " prak..prak..prakk.." sendal Mira menuju kamar. " "Brag...brug.." pintu kamar tertutup,  dindung rumah bergetar

                                                ***********
 Kini hari Mira  mencekam. Ayah yang keras dan suka mengatur,   suami pemarah dan sensitif. Keduanya menyatu dalam rumah.

Daun mangga masih terlihat samar ,  pinggir dan ujung  terlihat titik air menetes . Rumput terlihat masih basah, hari itu Mira dan suaminya menggali tanah  di sudut halaman rumah. Karena  Mira dan suaminya tidak bekerja. Kedalaman tanah sudah  50 centimeter dan  lebar satu meter. Bergantian Mira dan Andi membuang tanah ke luar pagar dekat taman.  

Tidak disangka ternyata ayah  memperhatikan.
 “ Untuk apa lubang itu?”  Ayah bertanya dengan suara menghentakkan. “Kami akan  membuat kolam ikan ayah “.  Mira menjawab.
“ Kolam.. tidak ada gunanya, bikin becek aja, tidak perlu”  Ayah  menyanggah dengan jari ditunjukkan pada lubang kolam.

“Lho..kok.suamiku hobi ikan, lagian bisa jadi hiburan buat anak anak”. Mira menyela
“Tidak perlu, tutup saja.”. Bentak ayahnya. Mira kembali galau.
 Kalau suaminya tahu, lubang harus ditutup, pasti akan marah lagi.
“Please ayah , kami tidak akan menutupnya,  kami akan membuat kolam”. Ayahnya tak menjawab.
                                            **************

Seperti hari hari biasa,  Mira pulang di saat matahari  di atas ubun ubun. Kaki yang lesu menyusuri dapur dengan langkah yang hampir tidak terdengar, keningnya basah kena terik matahari, perutnya bunyi karena makanan baru masuk sebelum berangkat.

‘Plak..plak..” Serasa muka Mira ada yang menampar.
“Dug.. dug...dug.” Jantung Mira berdetak  sangat cepat,  mukanya memerah, keningnya berkerut.
”Seiiir.” Serasa ubun ubunnya mendidih.
Matanya tertuju ke sudut taman,  lubang untuk kolam itu.
“ Bi..siapa yang menutup lubang ini?” Mira memanggil pembantu.
 “ Ayah”.  Jawab bibi datar
“ Tadi kakek menutup dengan rumput dan tanah”   Si bunggu menambahkan.

Kaki Mira yang lesu mendadak bisa berlari dengan suara menggetarkan lantai , seperti kilat menuju kamar. Suara tangisan Mira hanya  terdengar dalam ruangan kamar karena tertutup bantal

” Cape.cape..” Teriak Mira.  Suaranya lirih tidak berdaya. 
“ Aku tidak kuasa dengan hidup ini, “Mengapa semua harus terjadi, aku tak berdaya Tuhan”. Itulah rintihan Mira yang sering hadir  dalam setiap tangisannya.
“Kenapa ayah selalu mengatur kehidupan kami?”. Apalagi nanti suamiku tahu, pasti aku yang mendapat kemarahan,  bukannya ayah .” Kembali Mira menangis sejadi jadinya

“Draaggg....brag...” Pintu kamar terbuka cepat.
 “Siapa lagi yang menganggu rumahku. Siapa lagi yang menghalangi  hobiku”  Suara Andi menggetarkan seisi rumah.
 Mira terpaku menyender ke dinding. Matanya yang bengkak, hidungnya merah, hanya terdiam  dengan bantal dalam pelukkannya.
“Siapa yang menutup lubang  kolam, pasti ayah”.  Bentakkan Andi kembali membuat Mira menguraikan air mata.
 “Mengapa ayahmu selalu menggagu rumahku, mengapa mengatur hidupku, memang dia yang menjadi kepala rumah tangga di rumah ini?”

Akhirnya Mira dan suaminya hampir setiap hari beradu mulut, bersitegang dan cekcok.
Kadang Mira berusaha menegur  ayah  untuk tidak  mengganggu dan  mengatur rumah tangganya.  Kadang,    menasehati Andi untuk bersabar menghadapi ayah yang tidak muda lagi.
Jiwa Mira terombang  ambing antara  orang tua dan suami. Kemana  harus memihak, Karena keduanya sama berarti untuk  hidupnya.

                                                   ***************
Satu tahun, dua tahun hubungan Mira dan suaminya selalu diwarnai pertengkaran.  Andi  tidak semangat  bekerja. Harinya  dipenuhi kebencian,  ketakuatn dan kemarahan.   Dalam satu minggu,  dua atau tiga hari tidak bekerja.  Jika ditanya Andi menjawab   “Pusing, aku bukan kepala rumah tangga lagi di rumahku sendiri.”
Semangat bekerja terus menurun.  Mira semakin tertekan karena harus menanggung malu dengan perusahaan suaminya. Sampai akhirnya Andi memutuskan untuk  berhenti bekerja.

Mira semakin tertekan, harus menangung biaya resiko sehari hari . Setiap membicarakan kekurangannya biaya,  malah  hanya mendapat bentakan dan berakhir dengan pertengkaran. Akhirnya ,  berpikir sendiri dan tak jarang dia lari ke tetangga  atau saudara   untuk mengadu dan menangis,  mencari jalan keluar.

Tidak jarang Mira membawa tangisan ke  Bank Negeri tempat dia bekerja.  Pertengkaran  dengan suami terus betambah dan semakin sering. Bahkan  sering meminta bercerai  tapi Andi tidak pernah menanggapin karena bukan Mira penyebabnya.

Hari Mira semakin tak menentu. Jika tidak mengingat anak,  Mira ingin menjauh menghidari perang Irak Iran di rumahnya.  Senjatanya hanya tangisan di saat gelap gulita  berteman Tuhannya. Rintihan menjadi  sahabatnya untuk menguatkan hati menjadi wasit perang dingin antara ayah dan Andi. Rumah neraka menjadi kebiasaan yang harus dinikmati setiap hari.
                        ****
Matahari sudah bersembunyi,  seisi rumah tanpa suara diatas peraduannya, namun Mira bolak balik kamar mandi sendirian. Perutnya terasa sakit melilit, lebih dari dua puluh kali harus menguras perutnya. Suara Adzan subuh membangunkan putri sulungnya. Dia membantu Mira mengambilkan air hangat dan obat sakit perut.  

“Buaarrrr.....”. air dan makanan keluar cepat dari mulut Mira.
“ Kenapa mata mamah, masuk ke dalam dan sangat pucat?”. Nisa berurai air mata sambil panik.
Benar, tulang jari dan kaki sangat jelas terlihat, badannya sulit berdiri, suaranya tidak terdengar. Mira dehidrasi. Untung cepat di bawa ke rumah sakit, cairan tubuh Mira sudah terkuras. Satu minggu harus mendapat perawatan. Sebenarnya Andi tahu kalau Mira sudah sangat lelah dengan kehidupan dalam rumahnya.

Namun, sakit Mira tidak  merubah keadaan.  hidup dalam dua sisi yang sangat sulit.  Dia hanya  memohon, mendapat  keajaiban untuk kedua orang yang dicintainya bisa berdamai.  Memohon,  Rumahnya kembali menjadi surga miliknya.

                                                  ***** 
Tidak biasanya, Mira pulang ke rumah saat matahari sudah diufuk barat.  Rapat  Dinas akhir tahun harus menguras tenaga dan pikirannya.
Langkahnya pelan tak terdengar suara sepatu. 
“Dug..dug..dug.” Seperti biasa jika  masuk rumah, jantungnya akan lebih cepat. Neraka akan segera dia hadapi.

“Krek..krek”. Pintu dibuka. “Kok sepi..” Guman Mira dalam hati.
 Biasanya ayah ada di tengah rumah. Duduk baca koran atau berkomentar segala apa yang tidak setuju.

‘Bi.ayah mana?”. Ada bu, di kamarnya.  “Tadi cukup lama berbicara di telp.”
 Pembantu itu menjawab sambil menyetrika tumpukan baju.
Mira segera membuka pintu kamar. “Kok tidak  ada bi, kemana ayah?”

Secepat kilat Mira membuka pintu kamar mandi.  “ Astagfirullah..ayaaahh...kenapa?”
Tubuh kurus,  terlihat jelas tonjolan tulang terkujur di lantai kamar mandi, baju basah, kaki dan tangan kaku. Mata yang sayu hanya mampu mendelik dan berkedip perlahan.
Suara ayah tidak jelas apa yang dibicarakan. 
“ To..tolong, diingiiin.”  Pelan sekali hampir tak terdengar.  
Mira berteriak minta tolong.
Pembantu dan  suaminya segera menghampiri.  “ Mengapa ayah?”
“Pasti darah tinggi ayah kambuh , pasti tensinya naik lagi”. Mira dengan cepat memeriksa tensi ayah yang sedang terbaring di tempat tidur.

Tensimeter   menunjukkan  190 sistole  dan  diastole 100. “ Waduh, sangat tinngi”.  Wajah Mira  pucat dan tegang.   Ayah lemah dan tidak bisa berjalan. Bicaranya kaku dan tidak jelas. Tidak bisa menjawab pertanyaan, matanya kosong. Mengunyah makanan pun tak bisa bahkan mengingat waktupun agak sulit.
Mira dan suaminya segera membawa ayah ke rumah sakit.  Dari Ct Scan  dokter menyimpulkan kalau  ayah mengalami  stroke yang kedua .Kini pendarahan  di otak besar bagian kanan bertambah menjadi empat titik.

         *******
Satu minggu ayah terbaring di tempat tidur dengan jarum infus masih terpasang.  Sudah terlihat wajahnya lebih segar, sudah bisa makan namun daya ingat masih belum pulih. Sore itu Mira dan suaminya kebagian jaga malam. Tiba tiba ayah berbicara hampir tak terdengar dan terbata bata.                                                                                                                                                                                   
 “ Mira.. Andi. Ma..ma,,af , ayah ya..”  Mira secepatnya memagang tangan ayah. “Untuk apa, tidak ada yang perlu dimaafkan, ayah.”
“ A.a.ayah sudah merepotkan kalian berdua”.  Andi pun memeluk mertuanya sambil menangis  dan mencium tangannya. “ Aku juga minta ma’af ayah.”. suara Andi serak.

 Mira mencium tangan ayah..” Aku malah yang minta maaf,  karena tidak bisa membahagiakan ayah”. Ruangan kamar kelas tiga yang diisi oleh sepuluh pasien hening dan sepi,  hanya isak tangis yang menemani suara jam dinding.

******
Sembilan  hari dirawat, dokter membolehkan ayah pulang dengan rawat jalan. Namun   kondisinya  masih lemah dan bicaranya kurang jelas. Kadang membutuhkan waktu lama   mengingat sesuatu yang akan dibicaraka. Kemarahan, mengatur dan emosinya  sudah tidak nampak lagi. Hari harinya banyak diam, tidur atau membaca Al Qur`an.  

Mira dan suaminya semakin menyayangi  dan lebih memahami kondisi ayah. Pertengkaran Mira dan suaminya semakin hari berkurang, malah mereka terlihat hidup rukun dan tentram.  Andi sudah mulai bekerja di tempat lama.  Mira mendapatkan kembali suami yang mencintainya. Dia mendapat miliknya yang hilang.
 Surganya kini telah kembali. Rumah adalah surganya.

******
Padalarang 12 Juli 2016

(7 Syawal 1437H)




                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar