Kamis, 07 Juli 2016



CERITA FLASH

“ THE BIOTER WRITING CLASS “

(Masjid Salman ITB)

MARDIAH ALKAFF
                     

GUIDE:
BUDHIANA KARTAWIJAYA



MEMBERS

LUSIJANI. DIAN, RINA. IRNA. MARDIAH, LIESDA


                                                   Januari -Pebruari 2016



                “Menulis dapat menajamkan pikiran dan menghaluskan hati.”

                            “ Belajar Menulis ya,  harus Menulis”


                              




1.  Mardiah # BANGUN

Sendalku tak bersuara menyusuri pintu pagar rumah. Terbentang rumput hijau berbintik embun bening merata diseluruh daun. Buah pohon mangga ditaman itu samar tak nampak, hanya tetesan air dari ranting pohon berjatuhan diatas tanah lembab. Sejenak kuhela nafas panjang, kulit dan tulangku terasa kaku, bibirku bergetar, mulut menghembus asap dingin. Entah darimana datangnya, nyanyian burung pipit bersahutan memecahkan kesunyian pagi.



2. Mardiah Alkaff #SUBUH

Adzan subuh menghentakan dalam tidur lelap. Mataku perlahan mulai membuka. Namun badanku terasa berat untuk meninggalkan tempat tidur. Sedikit demi sedikit pikiranku mulai mengingat apa yang harus kukerjakan di pagi ini.

Sangat lambat menyadari kalau saat ini adalah hari senin. Kupaksakan kakiku melangkah mengambil air wudhu. Sujud syukur karena  aku masih mampu berdiri untuk meng Agungkan nama pemilik alam ini. Seperti hari biasanya , aku harus menyiapkan sarapan untuk buah hatiku yang akan menuntut ilmu.

Namun, kembali badanku menggigil dan gemetar, tulangku serasa ada yang menusuk entah apa yang membuat ototku seperti kapas kena air. Jaket tebalpun belum mampu membuat badanku bergerak dengan leluasa. Dari sudut dapur, Lilie kucing kecil kesayangan buah hatiku memanggil ingin keluar dari tempat istirahatnya. Tenagaku mulai terkumpul mengingat masih banyak pekerjaan rutin yang menunggu untuk segera aku kerjakan.


3. Mardiah Alkaff# TAK BERDAYA

Tatapannya lembut dan sayu, suaranya tidak pernah seperti ringkikan keledai. Diatas bangku kayu yang lapuk, si bungsu ada dalam pelukannya, tatapannya lurus tidak tahu arah. Kakak tertua dengan suara yang sulit terdengar. Kata demi kata terputus, menceritakan kejadian tadi siang di sekolah. Gurunya menagih bayaran sekolah lima bulan. Suara kakak terbata bata, Dan, Ibu tidak menjawab sepatah katapun.

Tatapanya kembali lurus menembus dinding bilik yang berlubang penuh rayap. Air matanya mulai menetes seperti butiran permata membasahi bajunya yang penuh jahitan. Si bungsu menatap wajah ibu sambil mengusap butiran air yang jatuh dari ujung matanya.

Ibu tetap tak bersuara. Kakinya yang terlihat tonjolan tulang, dijulurkan sambil menarik nafas panjang dan berkata hampir tidak terdengar. Bibirnya gemetar, "Maafkan ibu nak." Hanya itu yang keluar dari wajahnya yang keriput.

 Perlahan sang kakak memeluk erat ibunya. Dengan berurai air mata, suaranya pun hampir menghilang. "Maafkan aku juga bu, telah membuat ibu sedih". Mereka hanya mampu berpelukan dalam gubuk kayu yang sudah miring berlantai tanah kering.



4.  Mardiah # MENUTUP HATI

Pintu gerbang berwarna biru tidak nanpak satu orang siswapun. Karena waktu menunjukan pukul 09.00, semua siswa saatnya di dalam kelas. Sedang santai aku menaiki tangga menuju ruang guru. ibuuu...suara kencang dan histeris memanggilku dari ujung tangga. Wajah merah, bicara cepat, panik sangat terlihat jelas dari kelima siswaku.

"Ibu..ibu..ina  ada di ruang BP sejak pagi, dia dimarah guru dan mau dikeluarkan dari sekolah".  "Plak...plak.."serasa wajahku ada yang menampar sangat keras. "Dug..dug.. " Jantungku berdetak sangat keras, bicaraku jadi tak fokus. Wajahku panas dan memerah. Ingin rasanya aku berteriak sekeras kerasnya. "Oohhh... mengapa, ada apa...?

Namun dengan sekuat tenaga, aku tetap tegar mendengarkan keluhan siswaku. Namun tetap saja badanku sangat lemas dan sulit untuk berjalan. Kaki melemah namun kupaksakan melangkah menuju ruang TU.

Tiba tiba dari arah belakang "ibu..ibu" aku dipeluk dengan sangat erat. Ina..ya ina baru keluar dari ruang BP dengan wajah kusut, merah, panik. cukup lama dia memelukku. Kulihat air matanya mengalir. 

"Ok..ok..ibu mengerti". Aku memapahnya ke ruang laboratorium yang lebih sepi. Di lab kami hanya berdua, duduk di kursi paling belakang. Ina menangis, suaranya mengisi ruangan lab dan  bicara yang cepat, tertekan, tak percaya diri. 

"Ibu..aku introgasi, aku disalahkan" Mataku menembus hatinya yang sedang kacau.  
"Aku mau keluar dari sekolah ini, aku mau ke luar negeri, atau aku gak mau hidup lagi".

Saya tidak bisa berkata sedikitpun, hanya diam, terpaku dengan jantung seperti ada genderang perang bertalu talu.
Rasanya ingin menangis bersama ina. "Ibu..aku salah kan?" Gejolak hatinya sudah keluar sebagian,  aku mulai berani bicara.
" Kamu tidak salah ina". 

Hatiku ada yang membisikkan .  "Ina, kamu adalah salah satu korban hiterku, sabar ya..! "Kembali dia memelukku lebih erat sambil menangis lebih keras lagi.  Tidak terasa akupun turut menangis bersamanya. 



5. Mardiah #DEMO
"Aku mau demo guru honor ". Bu Rini dengan nada kesal, wajah putihnya memerah seperti buah apel fuji. "Oh, ya?" Aku jawab dengan datar. "Aku mau ke Jakarta menghadap presiden hari ini". Suaranya melengking ditujukan ke arah mukaku. Aku mulai menolehnya. "Tenang dong, gak usah nyorot begitu". Emosiku jadi naik, mukaku terasa panas.

"Pokoknya aku mau ikut demo, membela hak , aku benci presiden, aku benci pemerintah karena pengangkatan guru honor akan dihapuskan... !" Nada suaranya seperti keledai yang kehausan, bibirnya gemetar, tangannya di kepalkan. " Kalau mau demo, ya .. pergi aja sana..! Suaraku agak keras, sepatuku bersuara dengan langkah cepat meninggalkannya. "Huuhhh.."





6. Mardiah#JENGKEL
Ketua umum eskul science sudah diganti, tapi Arif tetap menjadi kepercayaanku. Tanggung jawab dan kepemimpinan sudah tumbuh dalam kepribadiaannya.
Suara musik mengalun mengisi semua kelas, menandakan istirahat yang pertama sudah saatnya. Dari balik pintu, aku melihat Arif datang bersama temannya. Rasa bahagia, karena seperti biasa dia akan bercerita kegiatan yang dilakukan minggu yang lalu.
Aku sudah siap dengan ramah dan senyuman. Namun.. "Seeiirr..seeeiiirr.." hatiku serasa disiram air panas. Wajah dingin, beku tanpa melirik aku sedikitpun. 
"Dag..dug..dag.." Jantungku berdetak dengan kencang, mukaku berkerut, bibirku terkunci. Mulutku ingin bersuara menyapanya, tapi aku tak mampu.

Hari berikutnya, tidak sengaja aku berpapasan dengan Arif di tangga depan ruang kepala sekolah. Kutatap wajahnya yang putih bersih. Membuang muka, tanpa ekspresi, acuh seperti aku tidak ada dihadapannya. 
Ingin rasanya aku menjerit dan berteriak. "Apa salah akuuu..? 
Hatiku serasa dicabik pisau belati yang tajam. Arif yang biasa manja penuh tawa kini tiada lagi. Aku ingin berlari dan berteriak agar semua dunia mendengar.
 "Apaaaa...salah akuuu? Hari hariku galau, kacau, benci, kesal. Hanya air mata yang menemaniku selama sebelas hari. 

Ya..sebelas hari baru terjawab kalau semua itu adalah skenario dan acting semua siswa kesayanganku di eskul cinta alam.
  

 7. Mardiah#JENAKA

Syakir anakku yang bungsu dari pagi hanya lari, dan keluar masuk rumah. Padahal, cahaya matahari sudah menyengat dia tetap masih berkumpul dengan temannya. Kakinya yang lincah meloncat masuk rumah. Kesempatan aku berteriak. " De, makan dulu!" Selalu dia jawab "Gak mau". 

Matahari sudah mulai turun, Syakir masuk rumah sambil menarik mobil mobilan kesayangannya. Aku mulai bersuara lebih keras. "Deee.. makan dulu, sama ayam nih!". Kembali dia lari keluar sambil berteriak.

 " Gak mau makan sama ayam, pengennya makan sama umi". 
"Waaaaahh, lhaaa.." Aku bengong,
 "Siapa yang salah..?


8. Mardiah  # SEDIH

"Kegiatan hari ini, curhat curhatan yukk!," Ibu yang memulai, kalian melanjutkan bergantian." Aku menceritakan tantangan dan kesulitan eskul alam. Diakhir kalimat, kulihat muka siswa disampingku memerah, kening berkeringat, matanya berkaca kaca. "Kenapa kamu?" tanyaku.

 Miftah malah menangis. Semua mata tertuju padanya. "Ibu..ibu...mamahku tidak bisa apa apa, mamahku lumpuh, bu". Air matanya semakin deras. Semua siswa turut berkaca-kaca. "Mamahku tinggal di Tasik, diurus nenek, bu". Suaranya makin tersedu dan menghilang. " A..a..aku gak pernah bertemu mamah" .Suara tangisannya makin keras. "Aku kepikiran mama terus buuuu, a..a. aku ingin disamping mama ibuuuu..." Tangisannya menjadi, mataku mulai basah. Ruangan hening tanpa suara.



9. Mardiah # MACET

Energi surya membakar kulitku sampai ke ubun ubun. Kakiku  sulit diajak kompromi. Tiba tiba dari arah perempatan jalan, muncul bis Damri. Aku berlari memburu karena waktu rapat sudah lewat. Bis bagai kura kura malas kehabisan makanan. Membuat jantungku berdetak lebih cepat. Ku arahkan pandanganku ke depan dan ke samping jalan.

 Jantungku berdetak cepat lebih cepat. Kendaraan bagai barisan tentara yang tidak terlihat ujungnya. Badanku lemas hanya mampu menarik nafas panjang. Pasrah, kesal dan gelisah. Sudah kebiasaan, Long week end, kendaraan plat F dan B memenuhi jalanan tol Padalarang Pasteur.



10. Mardiah #  MARAH

"Sekarang pelajaran ibu tapi kelas kosong, banyak yang ke lapang basket dan jajan". Sani menjemputku dengan bicara terburu buru. oww.. serasa jantungku ditonjok. Dug..plak. Setengah lari aku lalui tangga yang berkelok.
Tepat di depan kelas. Plak..plak serasa mukaku ditampar dengan keras. Kuamati seluruh ruangan kelas. Ya, bangku banyak yang kosong. Kursi belakang terbalik. Taplak meja guru, dan pot bunga tidak pada tempat. Siswa yang ada malah asyik ngobrol tak karuan. Darahku mulai mendidih, mukaku memerah. 

Sedikit aku berteriak. "Heeeiii....pada kemana teman kalian?" Siswa malah dengan santai menjawab. "Gak tahu." Kesal dan kembali aku berteriak. "KM mana? " . Santi dengan datar menjawab. "Di luar, bu." Siswa laki laki tak menghiraukan pertanyaanku,malah asyik ngobrol. Jantungku tambah kencang, suaraku tambah keras.
 "Heeeai..heeeeaaii dengarkan, bisa dengar gaaak?" Hanya beberapa siswa yang menoleh ke arahku. Suaraku tambah keras. Bibirku bergetar, gigiku beradu. "Dengaaaar...! Heeeiiii...semuanya... ada guru disini, ini wali kelas kalian!" Sambil bolak balik tidak tentu arah. Suaraku masih kencang. Mukaku makin memerah dan panas. Ingin rasanya berteriak lebih keras.
 "Heeeeeiiiii .. dengaaaaarrr......!" Tiba tiba dari luar siswa datang sambil tersenyum dan tertawa membawa kue berhias lilin. Semua menyanyikan lagu selamat ulang tahun ibu.
 Deri sang Ketua murid berteriak "Yes...hore.. sukses, berhasil membuat wali kelas marah , karena kami gak pernah liat ibu marah". Plak..dug ..dag.. jantung tak karuan lagi. Mukaku tetap panas ,namun malu dan haru.
Tak terasa air mataku menetes bahagia. Aku peluk siswa perempuan satu persatu . Deraian air mata siswa, dan keharuan bertambah dengan nyanyian sendu penuh perasaan. " Trimakasihku kuucapkan pada guruku yang tulus...."


11. Mardiah # BAHAGIA

Rumahku seperti kuburan, hanya Lilie kucing kecil menemaniku. Tiba tiba aku kangen baca tulisan lama dalam majalah pendidikan. "Pruk.....". Majalah Guneman yang aku cari, melesat di lantai. "Seeiiittt" Tanganku secepat kilat menyambar majalah. " Nah..ini dia". Suaraku hampir tak terdengar. Lembaran majalah berubah cepat menuju halaman tengah sampai bertemu tulisan setahun yang lalu.
"Hiks...hiks...he..he..."Suara tawa memecahkan rasa penasaranku. "Ha..ha..ha.." Aku tertawa spontan. Ahaaa...ehmm... woow...". Aku tak henti berguman sendiri mengamati tulisan yang menggelitik dan lucu.
"Ehhmm... tanda baca amburadul, kalimat pasif bertebaran, makna kalimat tidak nyambung".
"Horee...yes..yes". Tak sadar aku meloncat. "Aku tahu salahku".

Hatiku berbisik "Ssssttt...jangan bilang bilang ya, rahasia..lho, aku bisa mengkritik tulisanku, berkat punya group Bioter Writing Class, asuhannya kang Budi".. "Oooohhh, ya....???"



12. Mardiah#KULINER

 "Siapa yang mau..?" "Batagor Isan..gitu lho..!" "Ehhmmm.. aroma bawang goreng menusuk sampai menembus jantung, lambung pun jadi memelas. "Kreekk.." Renyah baso sapi urat. "Wooww....." Dari tengahnya meleleh minyak menyebarkan aroma khas daging sapi cincang. Tahu yang kulitnya kriuk, dalamnya putih lembut. Rasa ikan tenggirinya yang "Aduhaii, maknyos mak". Gigitannya kenyal sampai menggoyangkan lidah. Ditambah kuahnya itu, "Wuuuhh" masih berasap, sedikit pedas, manis, asin, gurih membuat sendok tidak berhenti masuk mulut. "Huuuuhhh." Semakin ingin terus menyantap. "Bagaimana tidak?" Mie telurnya lembut, kuning lembayung, "Seeuurr..mengalir perlahan dari bibir sampai tenggorokan. "Duh..duuuhh." Harum merica campur bawang putih menusuk hidung. Daun seledrinya itu, Ehhmmm..., membuat rambut hidungku menari nari.



13. Mardiah#LGBT

"Amira..Amira." Suaraku memecahkan langkahnya yang santai keluar dari pintu gerbang SMA. Dia menoleh datar ke arahku dengan senyum terpaksa. “Seiirr..seiir..”Darahku seakan ada yang membakar. Mataku terbuka lebar dan sulit dikedipkan. Aku tutup mataku, kemudian aku buka lagi. “Diakah Amira?” yang saat SMP seorang gadis pemberani dan banyak kawan. Langkahnya semakin cepat menjauhiku.

“Dag...dig.. dug..” Jantungku semakin cepat. Tanganku gemetar, heningku basah.Kakiku beku tak bisa melangkah. Ingin rasanya aku berteriak lebih keras lagi. "Amira...Amira..." Hanya mataku lurus mengikuti Amira yang berseragam celana panjang abu abu, rambut tipis lima centi, rokok menempel di bibirnya. Langkahnya tidak berhenti terus menjauh bersama siswa SMA laki laki.






"Menulis dapat menajamkan pikir dan melembutkan Hati"

"Cerita flash yang super pendek dapat memberikan inspirasi positif"



Belajar menulis dengan bimbingan dan sentuhan halus ahli yang tulus ikhlas penuh hati akan memberikan hasil yang luar biasa.

Terimakasih. Inspirasi dan motivatorku juga sahabatku yang penuh semangat tinggi.
(Bioter Writing Class, Salman ITB))








































Tidak ada komentar:

Posting Komentar