Senin, 11 Juli 2016

CERPEN


                                              SURGA YANG KEMBALI

Dua belas tahun pernikahan Mira dan Andi hingga dikarunia dua orang putri dan dua orang putra. Andi sangat mencintai Mira begitu pun sebaliknya. Rumah tangganya sangat bahagia walau hidup dalam keserhanaan. 

Namun,  Mira masih memikirkan ayahnya.  Sepeninggal ibu, duapuluh tahun yang lalu  ayah  tinggal sendiri di luar kota dalam rumah kontrakan. Karena usia hampir delapan puluh tahun   ayah sering sakit. 

 Mira mendapat izin suami untuk  mengajak ayah tinggal di rumah. Namun selalu saja menolak. Tiba tiba, entah apa penyebabnya.
“Mira, aku mau tinggal di rumahmu, tapi  beri satu kamar, ya.”
 Mira dan andi sangat gembira karena bisa menolong ayah . 

“Mamah.., kalau di rumah kita ada orang tua, insya Allah  kita akan  bahagiaan, karena orang tua akan membawa keberkahan untuk anaknya”  Begitu Andi menjelaskan, membuat   Mira sangat gembira.

       ****
Lembayung hampir nampak.  Truk berhenti di depan rumah,  membawa barang milik ayah. Karena di depan rumah jalan agak menurun, truk sulit  tepat di depan pintu gerbang.  

“Mudur..mundur”.. kernet memberikan aba aba.
Tiba tiba  “Druar..gubrag.”  semua orang berterik  “Stop..stop..stop”
 Secepat kilat Mira berlari keluar. “Subhannallah..Allahu Akbar” teriaknya
Pagar rumah   hancur tertabrak belakang truk. Mira dan suamiya saling berpandangan.  wajah pucat dan datar menandakan keduanya harus memutar otak.

Ayah Mira pun kaget, ” Wah..gampanglah nanti dibetulkan saja!” Dengan nada menyuruh.
Perasaan Mira dan suaminya menjadi tidak karuan,  karena harus membetulkan pagar yang rusak.

“ Pah., apakah tanda semua ini? “ Mira memelas pada suaminya setelah semua barang ayah diturunkan dari truk. 
 “Entahlah..... “ Suami Mira menjawab dengan datar dan mata yang lurus tertuju ke bongkahan tembok pagar yang hancur.
 “  Kerusakan,  menyambut kedatangan ayah, apa artinya ya, pa..? ”
“Apakah  kehadiran ayah akan membahagiakan atau membawa petaka?”  Mira dan suaminya hanya terdiam

*******
Hari pertama ayah di rumah membuat suami istri itu bahagia bercampur bingung.  Karena harus membetulkan tembok pagar yang roboh.
Dua minggu Mira melayani ayah dengan memberi kue basah setiap pagi yang dibeli dari warung. 

Ayah sering berbicara di telpon entah dengan siapa,  hanya suaranya saja yang terdengar sampai ke dapur.
“ Enak tinggal disini, serba gratis, tidak   bayar kontrakan,  air dan  listrik”, Mira dan suaminya hanya berpandangan dengan   menyimpan beribu pertanyaan.
“Makan juga sudah disiapkan, pokoknya enak deh”.  Suami istri itu hanya terdiam.

                                             ******
Sudah dua bulan ayah tinggal di rumah.  Mentari muncul di ufuk timur, udara bukit menusuk sampai ke tulang.  Laki laki tua duduk santai di teras berteman secangkir susu panas dan bolu kukus.  Tiba tiba  “Mira..kenapa pot bunga di situ, kok banyak yang tidak  penting, jeruk, kurma buat apa?

Mira kaget  “  Itu  semua tanaman  suamiku,  Jeruk  dan kurma ditanam dari  biji sejak lima tahun yang lalu”. Mira menjelaskan.
“Ahh..buat apa kalu mau buahnya  beli aja di pasar.” Ayah membantah.

“Dug..dag”  Jantung Mira  berdetak cepat  karena semua bunga dan pot adalah kesayangan suaminya yang  tidak  bisa diganggu. Mira tahu kalau    Andi hobi bertanam.
“ Pokoknya, nanti ayah yang ngatur,  biar rumah rapih”.

                                                 ************

Matahari menyengat sampai ke kulit, kucing berteduh di bawah daun rindang.   Kaki Mira melangkah pelan  ke dalam rumah. Suaminya belum nampak karena masih di pabrik mie instan tempat bekerja.

Dari arah belakang  “Ibu..ibu “  suara   yang hampir tidak terdengar memanggil Mira.
 “Ada apa teh?”.  Saya sudah memperingatkan ayahnya untuk tidak   membuang pot bunga dan buah buahan itu, Tapi dia tetap membuangnya ke tong sampah”.  Teh tuti tetangga sebelah rumah memberi kabar. keningnya  mengerut, mata tidak berkedip tertuju pada Mira. 

‘Apa teh, pot buah dan bunga dbuang?”
Dada Mira naik turun, jantungnya berdebar  kencang.
” Oh..tidak..tanaman itu sudah lama kami pelihara”.
Mira segera menghampiri ayah.

“ Mengapa ayah  membuang pot kesayangan suamiku?’.
“ Ahhh..buat apa tidak ada gunanya. “ Ayah  menjawab dengan datar.
“ Mana pohon jeruk sambal yang baru dibeli seminggu yang lalu dengan antri? ”
Tanya Mira dengan suara yang agak keras.  “ Di tong sampah”. Jawab ayah.

“Oh.no..no...pasti Andi marah, ayah?
Ayah  pun agak kaget dan terdiam.

 Kejadian itu, membuat  raut muka Mira mengerut, tidak ada senyum di wajahnya. Perasaannya tidak menentu menunggu  detik detik kedatangan suaminya.

Dari balik dinding ruang tengah  “Mengapa pot bunga berkurang, mana pohon jeruk, mana  bunga itu'? Suara Andi memecahkan lamunan Mira.
Badan Mira membelok dengan cepat “ Dibuang  ayah.”
“Seenaknya membuang barang orang !  Andi membentak.  Jantung Mira seakan mau copot.
Andi tidak berhenti   mengomel. " prak..prak..prakk.." sendal Mira menuju kamar. " "Brag...brug.." pintu kamar tertutup,  dindung rumah bergetar

                                                ***********
 Kini hari Mira  mencekam. Ayah yang keras dan suka mengatur,   suami pemarah dan sensitif. Keduanya menyatu dalam rumah.

Daun mangga masih terlihat samar ,  pinggir dan ujung  terlihat titik air menetes . Rumput terlihat masih basah, hari itu Mira dan suaminya menggali tanah  di sudut halaman rumah. Karena  Mira dan suaminya tidak bekerja. Kedalaman tanah sudah  50 centimeter dan  lebar satu meter. Bergantian Mira dan Andi membuang tanah ke luar pagar dekat taman.  

Tidak disangka ternyata ayah  memperhatikan.
 “ Untuk apa lubang itu?”  Ayah bertanya dengan suara menghentakkan. “Kami akan  membuat kolam ikan ayah “.  Mira menjawab.
“ Kolam.. tidak ada gunanya, bikin becek aja, tidak perlu”  Ayah  menyanggah dengan jari ditunjukkan pada lubang kolam.

“Lho..kok.suamiku hobi ikan, lagian bisa jadi hiburan buat anak anak”. Mira menyela
“Tidak perlu, tutup saja.”. Bentak ayahnya. Mira kembali galau.
 Kalau suaminya tahu, lubang harus ditutup, pasti akan marah lagi.
“Please ayah , kami tidak akan menutupnya,  kami akan membuat kolam”. Ayahnya tak menjawab.
                                            **************

Seperti hari hari biasa,  Mira pulang di saat matahari  di atas ubun ubun. Kaki yang lesu menyusuri dapur dengan langkah yang hampir tidak terdengar, keningnya basah kena terik matahari, perutnya bunyi karena makanan baru masuk sebelum berangkat.

‘Plak..plak..” Serasa muka Mira ada yang menampar.
“Dug.. dug...dug.” Jantung Mira berdetak  sangat cepat,  mukanya memerah, keningnya berkerut.
”Seiiir.” Serasa ubun ubunnya mendidih.
Matanya tertuju ke sudut taman,  lubang untuk kolam itu.
“ Bi..siapa yang menutup lubang ini?” Mira memanggil pembantu.
 “ Ayah”.  Jawab bibi datar
“ Tadi kakek menutup dengan rumput dan tanah”   Si bunggu menambahkan.

Kaki Mira yang lesu mendadak bisa berlari dengan suara menggetarkan lantai , seperti kilat menuju kamar. Suara tangisan Mira hanya  terdengar dalam ruangan kamar karena tertutup bantal

” Cape.cape..” Teriak Mira.  Suaranya lirih tidak berdaya. 
“ Aku tidak kuasa dengan hidup ini, “Mengapa semua harus terjadi, aku tak berdaya Tuhan”. Itulah rintihan Mira yang sering hadir  dalam setiap tangisannya.
“Kenapa ayah selalu mengatur kehidupan kami?”. Apalagi nanti suamiku tahu, pasti aku yang mendapat kemarahan,  bukannya ayah .” Kembali Mira menangis sejadi jadinya

“Draaggg....brag...” Pintu kamar terbuka cepat.
 “Siapa lagi yang menganggu rumahku. Siapa lagi yang menghalangi  hobiku”  Suara Andi menggetarkan seisi rumah.
 Mira terpaku menyender ke dinding. Matanya yang bengkak, hidungnya merah, hanya terdiam  dengan bantal dalam pelukkannya.
“Siapa yang menutup lubang  kolam, pasti ayah”.  Bentakkan Andi kembali membuat Mira menguraikan air mata.
 “Mengapa ayahmu selalu menggagu rumahku, mengapa mengatur hidupku, memang dia yang menjadi kepala rumah tangga di rumah ini?”

Akhirnya Mira dan suaminya hampir setiap hari beradu mulut, bersitegang dan cekcok.
Kadang Mira berusaha menegur  ayah  untuk tidak  mengganggu dan  mengatur rumah tangganya.  Kadang,    menasehati Andi untuk bersabar menghadapi ayah yang tidak muda lagi.
Jiwa Mira terombang  ambing antara  orang tua dan suami. Kemana  harus memihak, Karena keduanya sama berarti untuk  hidupnya.

                                                   ***************
Satu tahun, dua tahun hubungan Mira dan suaminya selalu diwarnai pertengkaran.  Andi  tidak semangat  bekerja. Harinya  dipenuhi kebencian,  ketakuatn dan kemarahan.   Dalam satu minggu,  dua atau tiga hari tidak bekerja.  Jika ditanya Andi menjawab   “Pusing, aku bukan kepala rumah tangga lagi di rumahku sendiri.”
Semangat bekerja terus menurun.  Mira semakin tertekan karena harus menanggung malu dengan perusahaan suaminya. Sampai akhirnya Andi memutuskan untuk  berhenti bekerja.

Mira semakin tertekan, harus menangung biaya resiko sehari hari . Setiap membicarakan kekurangannya biaya,  malah  hanya mendapat bentakan dan berakhir dengan pertengkaran. Akhirnya ,  berpikir sendiri dan tak jarang dia lari ke tetangga  atau saudara   untuk mengadu dan menangis,  mencari jalan keluar.

Tidak jarang Mira membawa tangisan ke  Bank Negeri tempat dia bekerja.  Pertengkaran  dengan suami terus betambah dan semakin sering. Bahkan  sering meminta bercerai  tapi Andi tidak pernah menanggapin karena bukan Mira penyebabnya.

Hari Mira semakin tak menentu. Jika tidak mengingat anak,  Mira ingin menjauh menghidari perang Irak Iran di rumahnya.  Senjatanya hanya tangisan di saat gelap gulita  berteman Tuhannya. Rintihan menjadi  sahabatnya untuk menguatkan hati menjadi wasit perang dingin antara ayah dan Andi. Rumah neraka menjadi kebiasaan yang harus dinikmati setiap hari.
                        ****
Matahari sudah bersembunyi,  seisi rumah tanpa suara diatas peraduannya, namun Mira bolak balik kamar mandi sendirian. Perutnya terasa sakit melilit, lebih dari dua puluh kali harus menguras perutnya. Suara Adzan subuh membangunkan putri sulungnya. Dia membantu Mira mengambilkan air hangat dan obat sakit perut.  

“Buaarrrr.....”. air dan makanan keluar cepat dari mulut Mira.
“ Kenapa mata mamah, masuk ke dalam dan sangat pucat?”. Nisa berurai air mata sambil panik.
Benar, tulang jari dan kaki sangat jelas terlihat, badannya sulit berdiri, suaranya tidak terdengar. Mira dehidrasi. Untung cepat di bawa ke rumah sakit, cairan tubuh Mira sudah terkuras. Satu minggu harus mendapat perawatan. Sebenarnya Andi tahu kalau Mira sudah sangat lelah dengan kehidupan dalam rumahnya.

Namun, sakit Mira tidak  merubah keadaan.  hidup dalam dua sisi yang sangat sulit.  Dia hanya  memohon, mendapat  keajaiban untuk kedua orang yang dicintainya bisa berdamai.  Memohon,  Rumahnya kembali menjadi surga miliknya.

                                                  ***** 
Tidak biasanya, Mira pulang ke rumah saat matahari sudah diufuk barat.  Rapat  Dinas akhir tahun harus menguras tenaga dan pikirannya.
Langkahnya pelan tak terdengar suara sepatu. 
“Dug..dug..dug.” Seperti biasa jika  masuk rumah, jantungnya akan lebih cepat. Neraka akan segera dia hadapi.

“Krek..krek”. Pintu dibuka. “Kok sepi..” Guman Mira dalam hati.
 Biasanya ayah ada di tengah rumah. Duduk baca koran atau berkomentar segala apa yang tidak setuju.

‘Bi.ayah mana?”. Ada bu, di kamarnya.  “Tadi cukup lama berbicara di telp.”
 Pembantu itu menjawab sambil menyetrika tumpukan baju.
Mira segera membuka pintu kamar. “Kok tidak  ada bi, kemana ayah?”

Secepat kilat Mira membuka pintu kamar mandi.  “ Astagfirullah..ayaaahh...kenapa?”
Tubuh kurus,  terlihat jelas tonjolan tulang terkujur di lantai kamar mandi, baju basah, kaki dan tangan kaku. Mata yang sayu hanya mampu mendelik dan berkedip perlahan.
Suara ayah tidak jelas apa yang dibicarakan. 
“ To..tolong, diingiiin.”  Pelan sekali hampir tak terdengar.  
Mira berteriak minta tolong.
Pembantu dan  suaminya segera menghampiri.  “ Mengapa ayah?”
“Pasti darah tinggi ayah kambuh , pasti tensinya naik lagi”. Mira dengan cepat memeriksa tensi ayah yang sedang terbaring di tempat tidur.

Tensimeter   menunjukkan  190 sistole  dan  diastole 100. “ Waduh, sangat tinngi”.  Wajah Mira  pucat dan tegang.   Ayah lemah dan tidak bisa berjalan. Bicaranya kaku dan tidak jelas. Tidak bisa menjawab pertanyaan, matanya kosong. Mengunyah makanan pun tak bisa bahkan mengingat waktupun agak sulit.
Mira dan suaminya segera membawa ayah ke rumah sakit.  Dari Ct Scan  dokter menyimpulkan kalau  ayah mengalami  stroke yang kedua .Kini pendarahan  di otak besar bagian kanan bertambah menjadi empat titik.

         *******
Satu minggu ayah terbaring di tempat tidur dengan jarum infus masih terpasang.  Sudah terlihat wajahnya lebih segar, sudah bisa makan namun daya ingat masih belum pulih. Sore itu Mira dan suaminya kebagian jaga malam. Tiba tiba ayah berbicara hampir tak terdengar dan terbata bata.                                                                                                                                                                                   
 “ Mira.. Andi. Ma..ma,,af , ayah ya..”  Mira secepatnya memagang tangan ayah. “Untuk apa, tidak ada yang perlu dimaafkan, ayah.”
“ A.a.ayah sudah merepotkan kalian berdua”.  Andi pun memeluk mertuanya sambil menangis  dan mencium tangannya. “ Aku juga minta ma’af ayah.”. suara Andi serak.

 Mira mencium tangan ayah..” Aku malah yang minta maaf,  karena tidak bisa membahagiakan ayah”. Ruangan kamar kelas tiga yang diisi oleh sepuluh pasien hening dan sepi,  hanya isak tangis yang menemani suara jam dinding.

******
Sembilan  hari dirawat, dokter membolehkan ayah pulang dengan rawat jalan. Namun   kondisinya  masih lemah dan bicaranya kurang jelas. Kadang membutuhkan waktu lama   mengingat sesuatu yang akan dibicaraka. Kemarahan, mengatur dan emosinya  sudah tidak nampak lagi. Hari harinya banyak diam, tidur atau membaca Al Qur`an.  

Mira dan suaminya semakin menyayangi  dan lebih memahami kondisi ayah. Pertengkaran Mira dan suaminya semakin hari berkurang, malah mereka terlihat hidup rukun dan tentram.  Andi sudah mulai bekerja di tempat lama.  Mira mendapatkan kembali suami yang mencintainya. Dia mendapat miliknya yang hilang.
 Surganya kini telah kembali. Rumah adalah surganya.

******
Padalarang 12 Juli 2016

(7 Syawal 1437H)




                                  

Kamis, 07 Juli 2016



 Science Club Napak Tilas ke
Gua Jepang dan Gua Belanda 


Alam yang penuh tantangan mampu mengajarkan siswa hidup nyata yang sesungguhnya dengan kegembiraan tanpa paksaan namun menghasilkan pembelajaran sikap, keterampilan untuk mencapai siswa berkarakter positif


 


B
bAnggota Science Club SMP Negeri 3 Padalarang berfoto

 di depan tugu Ir.H.Juanda Dago Pakar


Kegiatan  observasi alam dengan hiking, mengunjungi Dago Pakar merupakan kegiatan rutin setiap akhir semerter Ektrakurikuler Science Club SMP Negeri 3 Padalarang Kab. Bandung Barat. Pada 23 desember 2013 dengan personal sekitar  70  anggota ditambah 5 orang guru pembimbing kami menuju kawasan Dago Pakar dengan menggunakan kendaraan umum dari Padalarang sekitar satu jam.   Lokasi yang kami kunjungi adalah Taman Hutan Raya (Tahura) Ir.H.Juanda

Dari parkir Tahura, semua anggota berlajan sekitar 50 meter menuju Tugu Ir.H.Juanda. suasana hutan lindung sudah mulai terasa sejuk dan dingin karena pohon yang menaungi sangat rimbun dan tinggi.
 

Sampai di tugu yang disampingnya terdapat panggung atraksi,  Ibu Mardiah sebagai pembimbing eskul mengumpulkan semua anggota untuk istirahat sejenak. Di sekitar tugu ini, para siswa mengamati tumbuhan yang ada disekeliling dengan melihat sistimatika yang ditempel di batang pohon.  Dari pengamatan  semakin jelas kalau pohon yang sangat tinggi dan diameternya cukup besar itu, ternyata umurnya ratusan tahun dan didatangkan dari seluruh penjuru dunia seperti Meksiko dan Afrika
    
 

 Sistimatika tumbuhan yang ditempel pada setiap batang tumbuhan lindung untuk mengetahui            identitas juga petunjuk hewan yang ada di hutan lindung



Untuk mengenal lebih jauh Tahura maka kami mengunjungi Museum mini yang berada dekat tugu. Dari sini kami mendapat penjelasan mengapa Hutan lindung ini diberi nama Ir.H.Djuanda. Karena Ir.H.Juanda  adalah sang Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia sehingga  namanya diabadikan sebagai nama Taman Hutan Raya di kawasan Dago Pakar ini. Di dalam museum ini juga terdapat  foto-fotonya dan beberapa peninggalan penghargaan dan mendali milik beliau.  
Mengapa anggota Science Club SMP Negeri 3 Padalarang sering mengunjungi Tahura IR.H.Djuanda? Ibu Rini Wulan sebagai salah satu pembina menjelaskan bahwa Tahura merupakan daerah yang dikondisikan sebagai tempat konservasi alam yang terhampar mulai dago pakar, Lembang dan Maribaya. Disini siswa dapat belajar  langsung dengan mengamati berbagai tanaman pohon lindung yang   Kenakeragaman tumbuhan sangat bervariasi karena  didatangkan dari seluruh daerah di belahan bumi ini. Dan  tempat ini bisa dijadikan lokasi hiking yang cukup panjang dengan menyusuri trak Dago Pakar, Lembang dan maribaya  melalui jalan setapak. Selain udaranya sejuk juga pemandangan alamnya yang sangat indah.
  




  Pintu gerbang Gua Belanda




Dengan berjalan sekitar sepuluh menit dari museum mini, kami akan melewati dua buah gua bersejarah yaitu Gua Jepang dan Gua Belanda. Didepan gua para penyewa lampu senter sudah siap memberikan pinjaman seharga Rp.3000,- untuk penerang masuk gua  yang sempit, panjang dan banyak cabangnya sehingga masuknya pun harus berpegangan.
Pak Heryadi sebagai pembimbing yang mengajar  IPS,  menjelaskan   tentang bukti sejarah ini. Goa Jepang yang didirikan pada tahun 1942  dibangun oleh orang-orang Indonesia yang menjadi romusha Jepang. Goa sepanjang ± 70 meter ini difungsikan sebagai tempat perlindungan sekaligus pusat pertahanan Jepang di Bandung utara. Di dalamnya, terdapat empat buah kamar yang dulunya dipakai istirahat panglima tentara Jepang.   Sedangkan Gua Belanda dibangun pada 1941 ini dulu digunakan sebagai terowongan PLTA Bengkok. Kawasan Dago Pakar dianggap sangat menarik, karena selain kawasannya yang terlindung, tempat ini juga dekat dengan pusat Kota Bandung. Makanya, pada awal perang dunia II tahun 1941, Militer Hindia Belanda membangun stasiun radio telekomunikasi. Bangunan itu berupa jaringan goa di dalam perbukitan batu pasir . Saat perang memuncak, goa ini berfungsi sebagai pusat komunikasi rahasia tentara Belanda, sedangkan pada masa kemerdekaan dimanfaatkan sebagai gudang mesiu. 





.Setelah kami menyusuri kedua gua yang berdekatan dengan penuh kegembiran namun banyak tantangan, kami melanjutkan perjalanan dengan jogging track  berjalan kaki santai menyusuri jalan yang beralas plafing blok dan dikanan kiri ditumbuhi tanaman lindung untuk menuju air terjun, curug Omas da curug Lalay.
   

 


Hiking jalan santai menyusuri jalan setapak dari Gua Belanda menuju Maribaya sekitar 3 jam jalan santai


 

Pejalanan kami sekitar 3 jam jalan santai yang diselingi istirahat. Udara yang sejuk dan pemandangan yang sangat indah  bisa menghilangkan   rasa lelah dan letih walau banyak jalan mendaki.  Kebersamaan dengan canda dan tawa membuat suasana menjadi  lebih  gembira.
Kadang hujan turun deras melengkapi perjalanan kami. Inilah pembelajaran mental, sikap dan emosi kejiwaan yang sempurna. Alam yang penuh tantangan  telah mengajarkan siswa untuk tidak cepat mengeluh, tidak takut kotor, tidak takut basah kehujanan. Kuat dan tangguh menghadapi jalan yang naik dan turun. Alam mengajarkan siswa penuh persahabatan tanpa paksaan karena semua dilalui dengan rasa gembira dan bahagia. Alam yang penuh tantangan mengajarkan siswa arti kebersamaan, saling berbagi makanan, dan saling tolong menolong disaat ada teman yang sakit. Sehingga Alamlah sebagai guru yang profesional dan  sangat jujur mengajarkan banyak karakter.  Dan  kami pembimbing siswa    hanya sebagai fasilitator dan mediator saja, demikianlah bu Mardiah pembina eskul selama sepuluh tahun mengajak siswa untuk menyatu dengan alam.








Tanah Lapang tempat tujuan akhir                        

Perjalanan hiking, berakhir dengan  jembatan yang dibawahnya mengalir ke sungai Cikapundung. Dilanjutkan    menyusuri jalan setapak sekitar lima menit sampailah di Curug Lalay dan curug Omas. Diatas curug melintang  jembatan sekitar 30 meter yang terbuat dari kayu dan berayun. Di bawahnya  ada air terjun yang cukup dalam, terjal dan lebar. Maka kami harus bergantian dan  hati-hati melewatinya karena cukup berbahaya. Di Ujung jembatan terbentang  tanah lapang cukup luas yang  sekitarnya  ditumbuhi tanaman pinus dan banyak kera yang bergelantungan. Beberapa kerapun akan menghampiri kami untuk meminta makanan.  Disinilah kami beristirahat cukup lama karena inilah akhir perjalanan kami, yaitu Maribaya.

  
           
Di Tanah luas ini  kami bisa menikmati keindahan alam sekeliling dengan  santai sambil istirahat, makan dan duduk di atas tikar sewaan .  Di sebelah atas banyak warung  dan sebelah bawah terdapat mushala.




Permainan kelompok di alam, Outbond yang menumbuhkan kebersamaan dan kekompakan




Setelah rasa lelah hilang,  tibalah giliran ketua Science Club Agus Maulana dibantu Mahmud seksi acara, memimpin permainan alam outbont. Permainan kelompok ini mengajarkan kekompakan dan kebersamaan dalam suasana ceria, akrab dan gembira. Juga bisa mengeluarkan emosi dan kejiwaan  siswa untuk menemukan kepuasaan dan percaya diri yang tinggi.
Sekitar dua jam berada di lokasi ini, kami meninggalkan Maribaya dengan melewati kolam air panas. Karena hujan cukup deras membuat dingin, maka kamipun masuk  ke kolam air air panas bersama dengan baju yang menempel di badan. Membuat semua merasa senang dan gembira sambil menghangat badan.

 


Hanya sekitar satu jam bermain air panas, kamipun pulang dengan baju basah tidak diganti berjalan menuju kendaraan yang menunggu  di tempat parkir. Perjalanan pulang  melewati pasar Lembang menuju Koperasi Susu Bandung Utara untuk membeli susu murni yang harganya sangat murah Rp. 5.000 satu liter. Youghurt yang asli, krupuk susu, permen susu. Semuanya  menjadi oleh-oleh untuk dibawa pulang.
Inilah perjalanan alam yang banyak memberikan pembinaan  sikap, mental dan karakter yang kuat dan  tangguh juga  membuat siswa bahagia dan menyenangkan.Hal ini terbukti dengan  Media sosial facebook akan rame dengan status yang menceritakan kepuasaan dan kebahagian perjalanan.
Alam diciptakan oleh sang Maha untuk dinikmati bukan dibiarkan karena alam sumber belajar yang sangat sempurna untuk membentuk manusia seutuhnya.

Salam Berpetualang.
Science Club
Cinta Alam Cinta Allah
23 Desember 2013



Maka nikmat Tuhan  manakah yang kamu dustakan....?
Alam adalah Ciptaan yang Maha disiapkan untuk kenikmatan manusia





INSPIRASIKU DI BULAN SUCI 1437 H
 
                                                                [6 Juni - 5 Juli 2016]




“Ikatlah ilmu dengan menulis.” ―( Ali Bin Abi Thalib ra)

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis.” ―
(Imam Al-Ghazali)

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah (Rumah Kaca, h. 352)” ― Pramoedya Ananta Toe




BULAN PARA MALAIKAT Kau hadir kembali untukku. Aku datang lagi hanya untukmu Ampunan mampu menembus pintu langit Tangisan sesak parau bergema memecah pintu surga. Benci dan dendam tercabut para malaikat suci. Misteri rahasia tak terungkap namun nyata mencopot bola mata Hingga mengalirlah air mata darah. Jantung tercabik pisau belati Membuat ingatan terbang ke jagat raya penuh bintang. Untungnya sang malaikat tetap ada di pojok dasar hati. Duhai.. kekasih sang pecinta para perindu Gilasan besi tajamamu membuat jiwa punya kekuatan untuk menggali dasar bumi. Mampu menjadikan kaki dan tangan sekuat baja hitam kelam. Ramadhan, engkaulah Kekasih para pengharap cinta yang abadi. Salam nikmat Misteri #Mardiah_Alkaff





(20 juni 2016)
: Mengenang hari ke 13.. TIGA BELAS Hadirmu menggetarkan sutra putih Semilir aroma lembutmu merasuk sukma kasih Keperkasaan meluluhkan keangkuhan. Kedikjayaan menjatuhkan ego sampai dasar bumi. Kasih sayang menyebar dalam iringan semut hitam Kebersamaan bak anak ikan mengikuti arah surya. Dan ternyata... kalbu bergetar tak rela menatap engkau merayap menghilang. Jantung tertusuk pilu menyaksikanmu melenggok dibelakang bukit hijau Tiga belas ...... telah mengores tinta debu debu berterbangan. Tiga belas..... melambai dibalik awan Abu lembayung. Namun.... detik yang tersisa masih menyimpan cinta suci malaikat surgawi Harapan... roh melesat dalam kebaikan seribu bulan. Salam Berlalu Hari tiga belas



YAKINKAH Ketika jemari harus melepaskan peluru ke angkasa Yakinkah titik awan putih yang kau tuju Ketika logika harus menebas bambu untuk pagar bunga kuncup Yakinkah belatimu akan menjadikan anggrek berbuah jeruk manis. Ketika kalbu harus menghempas anak ayam dalam kandang Yakinkah kasihmu akan mampu membiakan itik menetaskan merak Apakah yang berperan dalam permainan nasib ikan ikan kecil di kolam Pobia dan kesinisan Ataukah tak suka dan menjijikan Dengan membuang ikan kecil yang tak menarik untuk dimakan kucing liar di jalanan Disimpan sebelah manakah sisi kalbu sucimu Di dalam lemari terkunci gembok marmer hitamkah Hingga kau buang anak kelinci pincang lugu tak punya arah Kemanakah cinta suci anugrah penghuni surga Sudah terhapus tertutup kaca berdebu Hingga kau hempaskan anak kangguru yang masih betah dalam kantongnya Apakah mata hati sudah tertutup daun pisang yang kering Sehingga lupa Keadilan akan datang menuntut dalam bayang ketiadaanmu. Salam keyakinan #Mardiah_alkaff


(Lagi kecewa setiap rapat kenaikan kelas begitu mudah memutuskan siswa gak naik.. tanpa melihat latar belakang dan belum berusaha maksimal..sdh fonis..)




MUDIK


Akhir bulan suci disaat lailatul qadar. Disaat hadirnya malam kemuliaan Menghitung uang Mengemas barang Menyiapkan kendaraan Bersesak di jalanan Mengunjungi sanak keluarga Menuju kampung halaman Bersilaturahmi Berlebaran. Membagikan rizki. Namun... Hanya beberapa hari Mengemas barang kembali memenuhi jalanan. Macet...... Arus balik..




ANGIN PANAS Panonpoe moncor siga seuneu tina ruhay Nyebrot matak hileud sing ngaburial tina jukut Ucing jeung manuk nyumput ngarengkol dina kandang poek. Tikoro mangrupa daun garing hibeur katiup angin panas. Beuteung ngurubuk sora angin euweuh baturna. Sagala makhluk teu walakaya cicing bari ngarasakeun
ngahiliwir angin tengah poe bulan puasa.




Kalau usiamu tak mampu menyamai usia dunia, 
maka menulislah. Menulis mperpanjang ada-mu di dunia 

dan amalmu di akhirat kelak.
(Helvy Tiana Rosa)
Ingat salah satu amalan yg terus mengalir adalah ilmu yg bermanfaat.
Tulisan kita adalah ilmu!
Semoga amalnya terus mengalir...



Salam Kesucian Ramadan
Mardiah Alkaff